Selasa, 02 November 2010

Jenis Konflik

Peran konflik (Role Conflict) adalah bentuk khusus dari konflik sosial yang terjadi ketika seseorang dipaksa untuk mengambil dua peran yang berbeda dan tidak kompatibel pada saat yang sama.  Adapun 2 jenis Konflik :

·         interrole
konflik antara 2 atau lebih peran yang dijalani oleh 1 orang. Konflik yang terjadi dari dalam individu karena mempunyai peran ganda atau lebih. Misalnya saja kita ambil contoh konkrit yang sering terjadi di sekitar kita, Seorang ibu yang bekerja akan mengalami konflik interrole karena ia mengemban 2 tugas berat sekaligus. Menjadi Ibu rumah tangga dan membantu Ayah dalam mencari nafkah. Itu merupaakan konflik yang tidak mudah dipecahkan karena ke-2 nya sama-sama memiliki tanggung jawab yang sangat besar. Bisa diselesaikan apabila sang Ibu bisa me-manage-nya dengan terampil.
           
·         Intrarole
konflik antara peran 1 orang dengan peran orang lain. Konflik yang terjadinya berasal dari luar, atau bukan dari dalam diri kita sendiri. Biasanya Konflik  Intrarole ini terjadi dalam persaingan antara rekan kerja. Adanya konflik yang terjadi karena persaingan yang ada.


Sumber : Handout Psi.Kelompok Klara Innata Arishanti, S.Psi


Konflik Peran (role conflict)

Konflik peran. Mungkin Istilah itu sudah pernah kita dengar sebelumnya. Namun apa sih sebetulnya yang dimaksud dengan konflik peran itu? Kita akan membahasnya satu perasatu.
·         Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.
·         Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam kehidupan.
·         Konflik Peran  adalah proses sosial antara dua orang atau lebih dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya terhadap tingkah laku seseorang sesuai kedudukannya dalam kehidupan. Jadi, Peran konflik (Role Conflict) adalah bentuk khusus dari konflik sosial yang terjadi ketika seseorang dipaksa untuk mengambil dua peran yang berbeda dan tidak kompatibel pada saat yang sama.

Sumber :

Tugas Peran dan Tugas Sosioemosional


Didalam Tahap Norming, ada yang disebut Peran atau Role. Peran tersebut dibagi kedalam beberapa tipe. Tetapi pada umumnya Peran dalam tahapan Norming itu dibagi kedalam Task Roles dan Socioemotional Roles. Berikut ini sekilas penjelasan tentang 2 macam Peran tersebut :

1.      Task roles tugas
Task Roles jika diartikan adalah Peran tugas maksudnya bentuk dari perilaku yang diharapkan dari seesorang pada situasi dalam tugas kita pada suatu kelompok. Misalnya saja, Peran ketua kelompok itu sangatlah penting, selain sebagai penggerak, dia juga bertanggung jawab atas apa saja yang akan dilakukan bahkan yang terjadi didalam sebuah kelompoknya. Beda lagi dengan Peran Tugas yang diemban oleh anggota kelompok lain yang ada didala kelompok, tergantung dari peran apa yang dia dapat dan tugas apa yang seharusnya dikerjakan oleh perannya itu sendiri.

2.      Socioemotional roles sosioemosi
Peran sosioemosional, didalamnya terdapat perilaku memulai dan menerima.
Maksudnya memulai dari diri sendiri untuk menjalankan peran individu dalam kelompok dan menerima peran yang sudah ada dan kenjalankannya. Lebih kepada emosional setiap individu didalam kelompok. Peran peran sosioemosional ini juga efektif untuk mempercepat hubungan antarpribadi yang positif tentunya.


Sumber : Handout Psi.Kelompok Klara Innata Arishanti, S.Psi

Tahap Norming

Pada tulisan kali ini saya akan menjelaskan tentang tahapan dalam Norming yang sudah saya bahas sedikit pada tulisan sebelumnya. Tahapan tersebut terdiri dari Peran, Norma dan hubungan antar anggota. Berikut penjelasannya :

1.   Peran (role)
Tahapan ini merupakan tahapan yang pertama dalam Norming, Peran (role) merupakan perilaku yang biasanya ditampilkan orang sebagai anggota kelompok yang menyediakan basis harapan berkaitan dengan perilaku orang dalam posisi yang bervariasi dalam kelompok. Jadi, didalam kelompok pastilah memiliki berbagai macam sifat yang ada, sedangkan didalam kelompok itu sendiri harus bisa menempatka diri kita walaupun berasal dari latar belakang yang berbeda pula tentunya. Tapi kita diharapkan bisa memiliki peran yang sedang kita emban didalam kelompok. Misalnya : Seseorang yang menjadi leader pada kelompok A. Dia harus memiliki tanggung jawab sesuai perannya sebagai leader dalam kelompok tersebut. Begitu juga setiap anggota dalam kelompok tersebut.

2.   Norma (norm)
Tahapan yang kedua yaitu Norma (norm) merupakan aturan-aturan yang menggambarkan tindakan-tindakan yang seharusnya diambil oleh anggota kelompok. Didalam sebuah kelompok pastilah memiliki aturan-aturan tersendiri atau yang biasa disebut dengan norma-norma yang ada didalam kelompok. Mengapa ada Norma didalam Sebuah kelompok? Sama seperti Norma-Norma pada umumnya, Norma didalam kelompokpun dibuat untuk di taati. Supaya menjadi Jembatan menuju tujuan yang ada didalam kelompok tersebut. Misalnya : Kelompok pecinta alam,dalam kelompok tersebut mempunyai tujuan melestarikan alam dan terutama lingkungan disekelilingnya. Ada Norma atau Aturan didalamnya bahwa setiap anggotanya tidak boleh membuang sampah sembarangan, Apabila ada anggotanyayang melanggar maka akan dikenakan sangsi.

3.   Hubungan antar anggota
Setelah adanya tahapan Peran dan juga norma, adapula tahap yang memiliki andil didalam Norming, yaitu Hubungan antar anggota. Biasanya dalam tahapan ini merupakan tahap yang penting, yang bisa mempererat hubungan antar setiap anggota kelompok.

Sumber : Handout Psi.Kelompok Klara Innata Arishanti, S.Psi

NORMING



Salah satu tahapan proses dasar dalam kelompok selain Forming dan Storming adalah Norming, tahapan dalam proses  ini menjelaskan tentang Bagaimana Proses pembentukan Struktur didalam kelompok. Dengan Kesepakatan dan consensus atau perpaduan berbagai pikiran, pengetahuan, informasi, pendapat, dan pengalaman yang berbeda dari berbagai pihak, yang disepakati seluruh anggota kelompok yang menghasilkan kesimpulan yang lebih utuh dan lebih lengkap yang banyak sekali dilakukan dalam kelompok ini akan merespon dengan baik segala fasilitasi yang dilakukan pemimpinnya. Komitmen dan persatuan sangat kuat. Team ini juga sangat menyenangkan. Pola kepemimpinannya memfasilitasi dan tanggap akan situasi. Dalam Norming juga ada masing-masing tahapannya, yaitu :
1.      Peran (role)

2.      Norma (norm)

3.      Hubungan antar anggota (relationship between members)

Sumber : Handout Psi.Kelompok Klara Innata Arishanti, S.Psi